Jumat, 20 Maret 2009

Indahnya perbedaan

Aku berbeda... kamu pun juga... dia apalagi... memangnya kenapa? Salahkah jika aku berkulit kuning, kamu putih dan dia coklat? Apa tidak boleh jika rambut aku lurus, kemudian kamu keriting dan dia sedikit berombak? Apa salahnya jika kamu yang kaya tinggal di rumah yang indah naik mobil mewah dan aku yang miskin tinggal di kolong jembatan bekerja keras demi sesuap nasi.. atau mungkin sebaliknya... Memangnya tidak boleh jika aku ini si jelek berkawan dengan kamu yang cantik? Ataupun ketika aku yang jadi si cantik lantas aku tidak mau berkawan dengan yang jelek? Jika kepercayaan kita terhadap suatu agama berbeda, apakah itu menjadi hambatan untuk kita berkawan? Aku tinggal dipulau Jawa... Kamu di Sumatra dan dia di pulau dewata. Lantas, kenapa? Apakah ada batas-batas khusus untuk bersatu? Apakah ada syarat-syarat untuk kita saling melengkapi satu sama lain? Haruskah kita menyamakan bentuk fisik dahulu? Atau mungkin aku harus pindah kesuatu tempat supaya kita tinggal dipulau yang sama. Haruskah aku merubah kepercayaan ku terhadap suatu agama untuk bisa menyamakan pandangan?
Negeriku... Indonesiaku... Terdiri dari ribuan pulau... Beranekaragam kebudayaan... Kepercayaan... Haruskah semuanya disamakan dahulu demi mencapai Indonesia yang utuh...? Kita semua putra-putri Indonesia, hidup, tinggal, bernaung di pusara ibu pertiwi. Indonesiaku.. negeriku... Jangan biarkan hal tersebut menjadi hambatan kita dalam berkarya, bekerjasama demi kemajuan negeriku.. Indonesiaku.. Kita semua unik... rasakanlah indahnya perbedaan.. Indonesia ada dari beranekaragam perbedaan.... namun dengan satu tujuan mulia.. kemajuan negeriku...

Selasa, 17 Maret 2009

Renungan negeriku

Aku lahir di negeri ini... dari rahim ibundaku... Aku bernafas dan hidup di negeri ini... Sedari kecil aku bermain di tanah tumpah darahku... Teman-temanku orang negeriku. Aku berbicara bahasa kesatuan negeriku.. bahasa Indonesia, walaupun arus globalisasi mengharuskan aku untuk lebih terbuka namun hanya satu kebanggaanku... Indonesiaku... Sejenak aku teringat sebuah bait...Aku beryanyi untuk negeriku... Ciptaan anak negeriku....Senandung curahan hatiku...

"Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
selalu dipuja puja bangsa"
Mengingat bait itu sesaklah hatiku.. Muncul kembali pertanyaan, apakah masih demikian adanya? Sakit rasanya hati ini.... Indonesia ku terjamah dan terkontaminasi oleh oknum-oknum yang egois, hanya memikirkan diri sendiri, yang jiwa nasionalisnya terbenam dalam kelam hatinya. Masih tersisakah sisa kejayaan masa lalu? Dengan berlimpahnya sumber daya alam. Zamrud khatulistiwa.... Tidak terdengar lagi sebutan itu untuk Indonesiaku.. Yang ketika aku kecil masih sering terdengar dan aku tersenyum dengan sebutan itu. kebanggaanku Indonesiaku. Keindahannya terbentang dari sabang hingga merauke.
Indonesia ku tidak tercipta hanya dalam waktu semalam... Indonesiaku hasil tumpah darah pahlawan negeriku... Indonesiaku... hasil perjuangan selama berabad-abad... Indonesiaku hasil dari pengorbanan ego setiap daerah... demi persatuan dan kesatuan.
Flashback.....
Ingatkah dengan perjuangan pahlawan negeriku? Pangeran Diponogoro, kapitan Pattimura, Cut Nyak Meutia, Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Raja Sisingamangaraja, Ki Hajar Dewantara, Yos Sudarso, Wahidin Sudirohusodo, Jendral Ahmad Yani, HR Rasuna Said, Mohammad Hatta, Adam Malik, Ir Soekarno, dan sederet nama lainnya. Familiarkah????
Sudahkah kita melakukan bentuk penghormatan terhadap perjuangan mati-matian mereka? Hingga saat ini kita bisa duduk manis. Seingatku belum.... ataukah aku yang mengalami syndrom kehilangan ingatan? hahaha... aku tertawa kepada diri sendiri... bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan, tawa miris yang semakin aku tertawa semakin pilu hati ini. Indonesiaku.... oh Indonesiaku....
Kulanjutkan lagi bait-bait indah dari lagu nasional favoritku "Indonesia Pusaka" karangan Ismail Marzuki.
"Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
tiada bandingnya di dunia
karya indah Tuhan Maha Kuasa
bagi bangsa yang memujanya

Indonesia Ibu Pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
tenagaku bahkan pun jiwaku
kepadamu rela kuberi"

Senin, 16 Maret 2009

Manusia tanda baca

  • Manusia dengan tanpa tanya, selalu bertanya tentang apa siapa mengapa bagaimana dimana, penuh dengan keingintahuan dan mungkin tidak pernah puas akan jawaban yang didapat.
  • Manusia dengan tanda seru, selalu menyampaikan argumen-argumen tajam dengan seruan seruan yang juga belum diketahui absah atau tidaknya. Mungkin iya.. mungkin juga tidak.
  • Manusia dengan tanda koma, selalu berusaha melanjutkan hidup dengan hal hal yang beraneka ragam, tidak mudah putus asa, dalam hidupnya akan selalu berjalan terus bagaikan tulisan dengan tanda koma.
  • Manusia dengan tanda titik. Hanya dapat mendeskripsikan dirinya terhadap satu statement. Baik atau buruknya, dia yang tentukan.

Realita hidup

Apa itu realita? Ketika keesokan hari kamu terbangun dengan masih berpakaian lengkap, kemudian menyalakan lampu, mematikan jam weker, dan melihat kedalam cermin, itu adalah realita. Ketika keesokan hari kamu terbangun dan menyadari bahwa engkau tidak dapat melihat lagi, itu juga adalah realita. Ketika keesokan hari kamu terbangun, dan bersantap bersama dengan keluarga tercinta, itu adalah realita. Ketika keesokan hari kamu terbangun dan mendapati berita bahwa ibumu meninggal saat kamu tertidur, itu adalah realita. Ketika saat ini kamu adalah orang yang berkelimpahan itu adalah realita. Namun jika keesokan harinya kamu terbangun dan mendapat berita bahwa ayah kamu dipecat dan mempunyai hutang yang begitu banyak, itu juga realita. Ketika kamu sekarang hidup dan besok meninggal. Itu juga realita.

Suatu paradigma

Pagi ini saya terbangun dengan seribu tanda tanya dibenak saya. Dimanakah batas-batas kebenaran itu. Apa yang bisa disebut benar dan apa yang bisa disebut salah. Kenapa begitu banyak orang merasa dirinya benar sedangkan orang lain justru melihat mereka sebagai pihak yang salah. Dimanakah eksistensi kita sebagai manusia yang katanya makhluk paling sempurna itu? Sekarang pun batas antara benar dan salah makin buram.
Dengan semakin majunya peradaban manusia semakin kaburlah pandangan antara yang benar dan yang salah. Bagaimana jika semua manusia mengklaim diri mereka sebagai "si Benar" sehingga tidak ada lagi ruang untuk "si Salah". Manusia berlomba-lomba untuk menjadi benar. Namun ketika kebenaran yang tadinya mereka elu-elukan ternyata hanyalah kebohongan belaka. Lantas apa yang selanjutnya akan terjadi?
Ketika paradigma seperti ini yang makin seringkali terjadi pada kita semua. Apa yang seharusnya kita lakukan? Jika muncul pertanyaan demikian maka yang akan kembali dipertanyakan adalah suatu eksistensi mengenai keagamaan. Banyaknya agama yang bermunculan di dunia itu yang sebenarnya selalu dibuat dan dikembangkan oleh manusia manusia yang kita sebut sebagai "si Benar".Mengapa demikian? Karena dengan gamblang mereka mendeklarasikan diri mereka sendiri sebagai suatu kebenaran. Memvonis tanpa pandang bulu terhadap agama yang lainnya. Menudingkan berbagai macam kesalahan dan bukti-bukti yang bisa disebut sebagai "senjata rahasia" terhadap yang lainnya.
Ketika seorang teman saya memberikan suatu pertanyaan mengenai keagamaan, tentang bagaimana cara manusia yang hidup pada jaman dahulu sebelum adanya agama, Bagaimanakah cara mereka untuk masuk surga? Pertanyaan yang menarik dan mendetail. Mungkin jawaban setiap orang dapat saja berbeda, hanya saja saat itu saya menjawab bahwa, karena manusia manusia jaman dahulu sangat berbeda dengan manusia jaman sekarang, justru semakin pandai manusia maka semakin tidak peduli manusia tersebut terhadap alam maupun sesama dan Tuhan nya. Jika dibandingkan dengan manusia yang hidup pada jaman dahulu, yang sangat memuja alam dan sekitarnya. contoh nyatanya ibaratkan saja agama itu sebagai suplemen. Jika statementnya demikian adanya : "Orang jaman dahulu tidak perlu suplemen tapi mereka hidup sehat dan panjang umur." Tentu saja hal tersebut akan sangat berbeda karena dunia saat ini telah hancur, udara sudah tidak bersahabat, kemajuan teknologi yang pesat justru semakin merusak bumi kita ini, sehingga mau tidak mau kita membutuhkan asupan lebih yang bisa didapat dari suplemen." Sama juga dengan agama, dibutuhkan supaya manusia tetap mempunyai pegangan dan tidak menjadi seenaknya saja. Bisa dibayangkan bagaimana jika semua orang didunia ini tidak mempunyai agama sebagai pegangan mereka. Kebenaran, apa itu kebenaran? Bagaimana jika ternyata hal yang dikecam oleh seluruh dunia dan diklaim sebagai sesuatu hal yang salah ternyata adalah hal yang benar. Kenyataan yang mengerikan tentunya akan selalu siap menanti kita semua bagaikan harimau yang mengintai mangsanya :)