Selasa, 17 Maret 2009

Renungan negeriku

Aku lahir di negeri ini... dari rahim ibundaku... Aku bernafas dan hidup di negeri ini... Sedari kecil aku bermain di tanah tumpah darahku... Teman-temanku orang negeriku. Aku berbicara bahasa kesatuan negeriku.. bahasa Indonesia, walaupun arus globalisasi mengharuskan aku untuk lebih terbuka namun hanya satu kebanggaanku... Indonesiaku... Sejenak aku teringat sebuah bait...Aku beryanyi untuk negeriku... Ciptaan anak negeriku....Senandung curahan hatiku...

"Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
selalu dipuja puja bangsa"
Mengingat bait itu sesaklah hatiku.. Muncul kembali pertanyaan, apakah masih demikian adanya? Sakit rasanya hati ini.... Indonesia ku terjamah dan terkontaminasi oleh oknum-oknum yang egois, hanya memikirkan diri sendiri, yang jiwa nasionalisnya terbenam dalam kelam hatinya. Masih tersisakah sisa kejayaan masa lalu? Dengan berlimpahnya sumber daya alam. Zamrud khatulistiwa.... Tidak terdengar lagi sebutan itu untuk Indonesiaku.. Yang ketika aku kecil masih sering terdengar dan aku tersenyum dengan sebutan itu. kebanggaanku Indonesiaku. Keindahannya terbentang dari sabang hingga merauke.
Indonesia ku tidak tercipta hanya dalam waktu semalam... Indonesiaku hasil tumpah darah pahlawan negeriku... Indonesiaku... hasil perjuangan selama berabad-abad... Indonesiaku hasil dari pengorbanan ego setiap daerah... demi persatuan dan kesatuan.
Flashback.....
Ingatkah dengan perjuangan pahlawan negeriku? Pangeran Diponogoro, kapitan Pattimura, Cut Nyak Meutia, Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, Raja Sisingamangaraja, Ki Hajar Dewantara, Yos Sudarso, Wahidin Sudirohusodo, Jendral Ahmad Yani, HR Rasuna Said, Mohammad Hatta, Adam Malik, Ir Soekarno, dan sederet nama lainnya. Familiarkah????
Sudahkah kita melakukan bentuk penghormatan terhadap perjuangan mati-matian mereka? Hingga saat ini kita bisa duduk manis. Seingatku belum.... ataukah aku yang mengalami syndrom kehilangan ingatan? hahaha... aku tertawa kepada diri sendiri... bukan tawa bahagia seperti yang diharapkan, tawa miris yang semakin aku tertawa semakin pilu hati ini. Indonesiaku.... oh Indonesiaku....
Kulanjutkan lagi bait-bait indah dari lagu nasional favoritku "Indonesia Pusaka" karangan Ismail Marzuki.
"Di sana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata

Sungguh indah tanah air beta
tiada bandingnya di dunia
karya indah Tuhan Maha Kuasa
bagi bangsa yang memujanya

Indonesia Ibu Pertiwi
Kau kupuja kau kukasihi
tenagaku bahkan pun jiwaku
kepadamu rela kuberi"

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ciel join multiply aje. kayak blogspot kok setidaknya disana blog2 elo bisa dilihat lebih banyak orang and don't worry it's way different from facebook hahahaha