Kamis, 09 April 2009

Intermezzo : Mimpi anak negeriku

Tanggal 090409 benar-benar menjadi hari yang sangat berkesan. Hari ulang tahun Angga Patria yang telah direncanakan seminggu sebelum hari H ternyata benar-benar terwujud. Untuk berbagi kebahagian dengan orang yang benar-benar membutuhkan rasa cinta kita. Kami semua sampai pada pukul 5 sore di Yayasan Kasih Orang Tua PNIEL yang bertempat di Jl. Kamp. Pondok Jaya No. 49 Bintaro. Yayasan PNIEL merupakan sebuah yayasan kasih sosial yang dikelola oleh Oma Stin yang telah berusia 72 tahun. Dimana terdapat 48 anak-anak mulai dari usia 3-17tahunyang berhasil diselamatkan dari konflik di Ambon dan tidak sedikit dari mereka yang melihat orangtuanya dibunuh didepan mata mereka sendiri. Kemudian ada juga oma-opa yang berjumlah 20 orang.Mereka ditinggalkan disana oleh keluarganya. Kami berjumlah 6 orang, Angga, Trian, Renna, Yubi, Costa dan saya. Kesan yang saya dapat pertama kali adalah ketenangan. Bekas hiasan natal masih tergantung dengan rapih di langit-langit. Dan terlihat bahwa anak-anak serta oma opa sudah duduk manis menunggu kedatangan kami disana. Setelah semua mobil diparkir akhirnya kami masuk kedalam dan diterima dengan ramah disana. Sambil menunggu Renna dan Trian, kami duduk di tempat mereka menerima tamu dan kami disuguhkan teh manis hangat. Awalnya saya kira kami hanya akan singgah sebentar disana. Membagikan makanan, mendengarkan mereka bernyanyi kemudian pulang. Tapi ternyata ketika kami sedang duduk-duduk para anak-anak dan juga oma opa melihat kearah kami dengan tatapan penasaran, oleh karena itu saya langsung turun kebawah untuk menyalami mereka semua satu persatu. Menyapa dengan senyum. Saya dapat merasakan tangan hangat mereka dan senyum tulus mereka. Sampai akhirnya acara dimulai. Kami duduk di kursi yang telah dipersiapkan. Acara dimulai dengan suguhan nyanyian dari anak-anak yayasan PNIEL tersebut aku menyebutnya "Suara Malaikat" dan mereka benar-benar bisa menyanyi. Tuhan memang adil, dengan dalamnya penderitaan yang mereka alami dan kepedihan yang mereka dapat di usia sekecil itu, mereka diberi bakat luar biasa untuk bernyanyi. Lagu ketiga adalah lagu yang masih membekas di hati saya hingga saat ini. Sebuah senandung tentang Indonesia dimana bercerita bahwa dunia ini semakin hancur dan telah kehilangan rasa cinta. Namun mereka masih terus berharap pada Indonesia... Ibu pertiwi mereka menyebutnya. Setelah tiga lagu kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Oma Stin. Doa yang sangat bermakna untuk kami semua, tanpa melihat kepercayaan yang kami anut, doa itu mengalir begitu saja. Berisi harapan-harapan untuk kami semua. Setelah doa akhirnya dilanjutkan dengan nyanyian Happy Birthday yang ditujukan untuk Angga Patria. kemudian kami membagikan brownies serta pudding untuk oma-opa serta anak-anak. Disini saya bisa melihat lagi betapa tertibnya mereka semua. Terutama untuk anak-anak yang memperhatikan oma-opa tersebut mereka berkata "Biarkan opa-oma yang dapat makanannya duluan, kami belakangan saja." Sungguh kata-kata yang sudah sangat jarang saya denngar, jika sopan santun makin terkikis seiring dengan arus globalisasi yang semakin kuat. Saat yang lain mulai membagikan semua kue-kue, saya menyempatkan untuk mengambil gambar dan berdialog dengan anak-anak disana. Anak-anak sangat antusias menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan. Ketika saya bertanya tentang "Cita-cita kalian apa?" Semua langsung berebutan untuk menjawab. Mulai dari guru,dokter, tentara hingga presiden. ketika ditanya kenapa mau jadi presiden jawabannya "Untuk memajukan Indonesia kak!" Jawaban jujur dari anak sekecil itu. Saya sangat terharu mendengar jawaban mereka. karena rata-rata jawaban mereka untuk cita-citanya adalah untuk Indonesia. Ada lagi yang mau jadi guru, ketika ditanya alasannya jawaban mereka adalah "Supaya rakyat Indonesia jadi pintar" Dan spontan saya bertanya kepada mereka apakah kalian cinta Indonesia???? Jawab mereka dengan lantang "Iya!!" Tapi ada selentingan dari beberapa anak yang ternyata sangat kecewa dengan kinerja pemerintahan yang ada. Katanya "Indonesia korupsi kak!" Mendengar itu rasanya miris, sedih. Tapi begitulah kenyataannya saya hanya berkata "Saat ini memang banyak orang-orang yang korupsi makanya kalian sebagai generasi penerus harus belajar rajin dan jangan korupsi." Hal yang paling mengejutkan adalah, mereka sedikit banyak tahu politik di Indonesia, bahkan jumlah hutang Indonesia pun mereka tahu. "Sekarang jumlah hutang kita 920trilliun kak."Mereka semua sangat mengidolakan Barack Obama yang katanya "President Obama itu beda kak, dia beda. Kapan kita punya presiden seperti dia? Katanya Obama mau mengurangi jumlah hutang Indonesia loh!". Kemudian ada lagi yang bertanya "Kak, kapan hutang Indonesia lunas?", akupun tersenyum miris.Mimpi-mimpi anak negeriku, dengan seribu satu harapan. Dibalik senyum dan tawa mereka, terdapat impian begitu besar demi kemajuan Indonesia. "Baik kak, kami akan rajin belajar!" kata mereka semua serentak. Setelah dialog panjang, tukar menukar pikiran akhirnya mereka menyuguhkan kami dengan tarian dari Ambon. Sebuah tarian massal yang sangat unik. Akhirnya sudah pukul 9 malam, tiba waktunya kami pergi untuk makan malam. Semua yang terjadi hari itu benar-benar menjadi sebuah makna yang berarti bagi kami semua. Dimana sistem di negara ini yang telah membuat masyarakatnya kecewa, masih tersimpan mimpi-mimpi anak negeri, yang tidak putus asa untuk berharap dan berusaha demi kemajuan Indonesia. "Kak, nanti kesini lagi ya!". Jawabku, "Pasti!"

Tidak ada komentar: